by

The New Normal, Strategi Berdamai Dengan Pandemi


LAMANDAU-Borneoindonesia.com- Sejak masuknya Covid-19 ke Indonesia pada awal Maret lalu, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan mereka. Ada yang diberhentikan dengan pesangon penuh sesuai perjanjian awal, dengan pesangon yang nilainya disesuaikan, atau bahkan tanpa pesangon.

Bagi pemilik usaha yang sudah menyiapkan dana darurat untuk perusahaannya ada juga yang masih tetap berusaha mempertahankan karyawannya meski harus memotong gaji 30 persen, 50 persen atau bahkan lebih.

Bagi karyawan pun dalam situasi seperti ini masih bertahan dan tidak berniat mencari pekerjaan yang lain. Salah satu pertimbangan mereka ialah dalam kondisi normal saja mencari pekerjaan tidak semudah itu, apalagi di saat pandemi dimana banyak usaha yang gulung tikar.

Pemerintah juga tidak tinggal diam, berbagai penyesuaian telah dilakukan. Terlebih saat Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2020 hanya tumbuh sebesar 2,97 persen. Data ketenagakerjaan yang dirilis BPS menunjukkan penurunan pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2020 sebesar 0,15 persen dibanding Februari 2019 artinya supply atau ketersediaan atau pasokan angkatan kerja menurun menurun dibanding bulan yang sama Februari tahun sebelumnya.

Kementerian Ketenagakerjaan memberikan kabar yang mengejutkn yaitu sejumlah 2 juta orang tenaga kerja dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena terdampak pandemi Covid-19.
Pemerintah telah memberikan stimulus berupa bantuan sosial, subtitusi listrik, insentif perpajakan, stimulus kredit usaha rakyat (KUR), restrukturisasi kresit dan stimulus lainnya. Sebagian masyarakat merasa bersyukur dan terbantu dengan kebijakan ini dan sebagian lagi sungguh sangat disayangkan justru menyalahgunakan bantuan untuk membeli pakaian atau sepatu baru untuk Lebaran, seperti yang sedang viral di media sosial belum lama ini. Di bidang kesehatan pun pemerintah menargetkan untuk dilaksanakan swab test sejumlah 10.000 spesimen per harinya dengan metode PCR. Sayangnya, target ini belum dapat terpenuhi, karena kurangnya jumlah sumber daya manusia yang menjadi tenaga kesehatan dan jumlah peralatan tes seperti yang diungkapkan Ketuga Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo.

Bermunculan Inovasi
Di saat banyak sektor yang melemah, ada juga sektor-sektor yang semakin menguat karena kegiatan usahanya semakin diminati masyarakat. Salah satunya ialah industri obat-obatan dan farmasi, termasuk di dalamnya industri minuman kesehatan atau herbal yang penjualannya meningkat. Terlebih di awal pandemi dimana masyarakat mengalami panic buying sehingga banyak membeli stok obat-obatan dan penunjang kesehatan untuk keluarganya. Sampai suatu titik dimana pembeli hanya diijinkan membeli satu kemasan obat atau vitamin karena sedikitnya jumlah barang yang tersedia sedangkan permintaan jauh lebih banyak. Di industri jasa makanan dan minuman, yang menyediakan menu makanan sehat, catering makanan di rumah yang dari awal berdiri memang khusus melayani diantar ke rumah (take away) bukan dimakan di tempat (dine in), juga semakin diminati. Hal ini menjadi solusi bagi para karyawan yang mendapatkan privilege untuk bekerja dari rumah atau work from home untuk terus dapat menyediakan menu makanan sehat bagi keluarganya. Ataupun bagi ibu rumah tangga yang merasa jenuh dan bosan menyiapkan masakan ketika anak-anaknya yang belajar dari rumah atau study from home selama pandemi dimana anak-anak cenderung mudah lapar.
Tak cukup sampai di situ, beberapa kegiatan usaha kreatif terus bermunculan selama pandemi ini. Penyedia makanan dan minuman usaha rumah tangga yang biasanya hanya menyediakan makanan untuk dine in, memeras otak bagaimana usahanya tetap dapat berjalan, sehingga sekarang menyediakan produk makanan usahanya dalam bentuk makanan beku atau frozen food. Sehingga para pelanggan tetap dapat menikmati di rumah bersama keluarga. Tidak hanya usaha rumah tangga, usaha makanan dan minuman siap saji berskala besar, juga melakukan strategi yang lain dari biasanya. Di beberapa gerai (tidak semua gerai) mulai dijajakan produknya di pinggir jalan untuk melayani pembeli yang hendak membeli secara drive through, dimana pembeli memesan, membayar dan menerima pesanan dari kendaraannya. Dimana hal ini sebelumnya tidak pernah dilakukan.
Beberapa swalayan yang menjual barang kebutuhan sehari-hari juga mulai berinovasi membuat layanan pembelian melalui website dan menyediakan jasa pengiriman sampai ke rumah. Tidak hanya swalayan, minimarket yang biasa kita temukan di jalan-jalan pun sudah menyediakan layanan pembelian melalui aplikasi dan jasa pengantaran sampai ke rumah. Di dunia fotografi, mungkin di pikiran kita tidak akan terpikir bagaimana mereka bekerja saat pandemi seperti ini. Pemotretan biasanya dilakukan studio, langsung dengan fotografer, penata rias, pengarah gaya, dll. Nyatanya, lahir inovasi baru bernama virtual photoshoot dimana fotografer mengambil gambar dari secara virtual dari gadget atau layar laptop mereka, hasilnya pun tidak kalah menarik dari photoshoot yang biasanya dilakukan.

Adaptasi Sebagai Strategi
Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam kondisi apapun untuk mempertahankan hidupnya. Dalam teori adaptasi klasik, proses adaptasi sesederhana bagaimana manusia memperoleh air, udara, makanan, bereproduksi, dan mempertahankan hidup dari musuh alaminya di alam. Sejalan dengan perkembangan manusia, mereka yang mampu beradaptasi akan bertahan dan menang. Semua bagian dalam kehidupan ini menuntut untuk melakukan adaptasi, termasuk dunia bisnis yang meminta kita untuk cerdas beradaptasi dengan menciptakan ide, stategi dan tindakan yang tepat. Ketika dalam keadaan terhimpit masalah ekonomi di tengah pandemi, manusia cenderung mengeluarkan ide kreatif untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya. Kita yang selama ini bahkan belum terpikir untuk melakukan inovasi karena sudah terlalu lama berada di zona aman dan terlanjur nyaman dengan segala yang telah kita raih, pada akhirnya akan dapat menemukan strategi untuk bertahan di tengah pandemic Covid-19 ini. Presiden menyampaikan bahwa sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan.
Dicky Budiman, seorang epidemiolog dari Griffith University Australia memaparkan the new normal life adalah bagian dari strategi yang diterapkan selama belum ditemukannya vaksin atau obat untuk Covid-19. Berbagai regulasi Pemerintah akan dilakukan secara bertahap untuk memulai fase the new normal. Kita juga harus mulai membiasakan new normal untuk diri sendiri sesuai anjuran Pemerintah seperti menggunakan masker setiap keluar rumah, menyediakan tempat mencuci tangan dan sabun di tempat umum, rajin mencuci tangan dengan sabun, membersihkan diri atau mandi setelah berpergian, menjaga jarak aman satu dengan yang lain, menghindari kerumunan, perjalanan dinas maupun perjalanan pribadi hanya dibatasi untuk hal yang penting, mengkonsumsi makanan sehat dan masih banyak lagi penyesuaian yang harus dilakukan seperti di transportasi dan fasilitas umum sampai vaksin ditemukan. Adaptasi yang harus dilakukan tentu saja adaptasi yang bertanggung jawab. Seperti yang kita ketahui jumlah penambahan kasus positif pada beberapa waktu lalu mencapai angka 937 orang terkonfirmasi positif dalam satu hari. Adaptasi yang kita lakukan tetap harus mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan Pemerintah. Jangan sampai keegoisan kita mencari nafkah dapat membahayakan diri kita, keluarga dan orang lain.

The new normal ini juga berlaku dalam pekerjaan kita, kita harus mampu berdaptasi di tengah pandemi. Kita harus bahu membahu membuat new normal untuk kehidupan yang lebih baik. Sekarang waktunya semua orang berpikir kreatif, apa yang dibutuhkan masyarakat yang dapat dibuat, diciptakan atau dijual di saat seperti ini. Misalkan, ibu Anda hebat dalam membuat kue, anak bisa membantu memasarkan dan menjual di media sosial, memberikan jasa layanan antar. Anda mempunyai usaha laundry, sebelumnya hanya bisa diambil di tempat, kini Anda bisa memberikan layanan ambil, timbang dan antar pakaian ke rumah, sebarkan informasi ke seluruh pelanggan Anda. Ini saat yang tepat untuk berbenah, jangan hanya berpangku tangan menyalahkan Pemerintah, pandemi ini membuat semua orang susah. Pemerintah juga tidak boleh lengah, Pemerintah harus bisa membuat regulasi yang tepat sampai pandemi Covid-19 ini musnah, dan tugas berat menanti ialah menjahit kembali sektor-sektor yang sempat bubrah, supaya perekonomian Indonesia kembali gagah.

Oleh : Bitasari Pascalisa, SST.

Penulis adalah ASN BPS Kabupaten Lamandau

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed